Kamis, 28 Februari 2013

Don't You Remember | Adele


When will I see you again?
You left with no goodbye, not a single word was said,

No final kiss to seal any seams,

I had no idea of the state we were in,

I know I have a fickle heart and bitterness,
And a wandering eye, and a heaviness in my head,

 
But don't you remember?

Don't you remember?

The reason you loved me before,

Baby, please remember me once more,


When was the last time you thought of me?
Or have you completely erased me from your memory?
I often think about where
I went wrong,

The more
I do, the less
I know,


But I know
I have a fickle heart and bitterness,
And a wandering eye, and a heaviness in my head,
But don't you remember?
Don't you remember?

The reason you loved me before,

Baby, please remember me once more,


Gave you the space so you could breathe,
I kept my distance so you would be free,And hope that you find the missing piece,
To bring you back to me,


Why don't you remember?
Don't you remember?
The reason you loved me before,

Baby, please remember me once more,


When will I see you again?


Sabtu, 23 Februari 2013

Ekspektasi Usang.

Hampir setiap pagi kumulai hari dan hari dengan ekspektasiku. Dan hampir setiap malam pula ekspektasi itu hanya menjadi ekspektasi untuk pagi berikutnya. Hampir setiap waktuku tidak bisa melakukan semuanya dengan baik.

Bingung untuk memulai. Apa yang pertama akanku jamah. Akankah membuat sepenggal mesagge buat teman-temanku dan  menyapa pagi mereka? Apa dengan medorong keluar tubuhku dan berhadapan dengan tuan matahari? Atau membuat ekspektasi hari lagi dengan pena yang berbeda??

Ya, semuanya tidak kulakukan kecuali hanya terbaring sembari mengingat sapanya semalam yang tiba-tiba.
Tiba-tiba ada sebuket bunga mawar berwarna merah disana dan gambaran hati yang bertebaran dimana-mana. Tentunya bukan di depan pintu kamarku, tapi di sebah jejaring sosial bernama LINE.

Ada rasa penyesalan disana, kenapa aku menerima recomendednya menggunakan aplikasi ini? kenapa aku harus meminta dia menjadi temanku? Kenapa kita masih saling menyapa? Kenapa kita masih saling mengirimkan foto?

Kenapa kamu lakukan ini?
Kemana kamu saat 14 bulan yang lalu?
Kenapa saat sisa-sisa bunga dandoloid yang dulu tumbuh subur kini terbang habis oleh angin kehampaan?
Kenapa tidak datang saat detik-detik hatiku sekarat menunggu?

Semua, semalaman membuatku bingung, bahkan untuk menjawab. Bahkan untuk sedikit degupan saja tak berfungsi lagi disana.

Memori?
Tidak lagi menjadi guna karena termakan oleh debu-debu yang dibiarkan menebal menjadi tanah.

Aku?
Kamu?
Hanya tinggal ekpektasi yang berbeda saat ini. Tidak lagi saling menyatu, bahkan saat dekat sekalipun. Kamu dan duniamu. Aku dan duniaku.

Aku dengan ekspektasi yang masih menunggu tanpa gerek. Ekspektasi yang sama tanpamu.
Sedikitpun.

Lupakan

Beberapa hari tanpa nama.
Kosong.
Itu pedih.
Tanpa sapa di pagi hari setelah membuka mata itu sunyi

Imajinasiku menari-nari tanpa henti dan tidak memiliki benang merah yang menyambungkannya. Tiba-tiba ada kelinci putih (Hasil film yang baru-baru ini kutonton), kemudian ada prof. christianto (dosen Surveycpaling galak seantero langit dan bumi), lalu ada nama seseorang yang jauh disana.

Bukan untuk alasan yang sama aku mengingat mereka, bukan hanya mereka yang ada diingatanku. Atau ada kepentingan mereka. Hanya saja menjadi salah satu imajinasi jika mereka ada di depanku sekarang. Khususnya seseorag tanpa nama dan tetap menjadi frasa pribadi di sisi ruang kosong.

Well, begini rasanya bukan mejadi siapa-siapa dari seseorang.

Begini jadinya bila memikirkan orang lain di masa lalu.

Tapi, kenapa masi mengingat? Sementara bom waktu pada segumpal darah bernama hati tidak terdengar lagi keberadaannya. Juga tidak ada lagi bunga dandelion disana yang tumbuh hingga mengelitik. Sama sekali tidak ada.

Rabu, 02 Januari 2013

Dunia Tanpa Tanda

Ini bukan karena tidak tahu, tapi karena ini nyata adanya.
Tentang dunia, tepatnya di duniaku.
Mungkin hanya sedikit orang yang mengerti tentang jalan pikiranku.
Karena kita tak sama dan garis perbedaan anatara aku, duniaku, dan duniamu semakin jelas.

Suatu pagi, di hari yangku anggap akan cerah seperti 2 hari yang lalu berubah menjadi hari yang mendung. Bukan mendung lagi, tapi ini hujan. Mungkin, hujan telah memberikan tanda pada bumi di awal tahun 2013. Bahwa akan ada yang sendu, basah dan rindu. Seperti pagi ini. Aku memulai hariku dengan bersiap-siap berangkat ke kampus merah. Tanpa sarapan, tanpa sapa dan tanpa senyum. Seperti hari-hari biasa setelah tanpa dia.

Teman?
Ada.. Teman di samping kamar kostanku, tapi dia sibuk dengan dirinya sendiri, atau hanya akulah yang berfikir seperti ini, atau apa mungkin dia berfikir sama sepertiku?. Entahlah teman, mulai dari mana dan mulai dari kapan kita seperti ini. Sapa dengan senyum, canda dengan kenangan tanpa akan memulai petualangan baru bahkan aku tak berani lagi datang kekamarmu untuk memulai pembahasan yang baru sebab arah pikiran kita berbeda. Tapi, kenapa pada yang lain kamu selalu lepas tertawa? lepas berbagi? dan bersamaku?
Entahlah, ada atau tanpa aku, kamu akan baik-baik saja.

Tapi, ada satu teman elektronikku, Televisi kesayanganku setelah laptop kupu-kupuku tercinta. Hanya dia yang menghiburku setiap pagi mau berangkat ke kampus merah. Hanya dia dan semua orang asing di dalamnya.

Semua persiapanku telah siap, mulai dari berkas beasiswa yang akanku kumpulkan hari ini, buku catatanku sebagai penjaga apabila ada ujian, ransel orange yang menyimpan semua kebutuhan pengganti lemari super canggihku, payung dan jaket pelindung hujan dan dingin dan taklupa obat-obatanku.

Aku siap berangkat, aku siap memulai hari ini, Sendiri. Aku siap melakukannya sendiri. Bersama payung merahmuda di tengah lapangan dan bersama hujan. Aku berdoa dalam setiap langkahku kali ini. Berusaha ramah pada setiap orang yangku temui. Berusaha melakukan semua yangku bisa sendiri di kampus merah ini.

Aku tahu, aku tak ingin dikatakan solkar oleh teman-temanku. Tapi sekali lagi duniaku dan dunia mereka kali ini berbeda. Bagaimana caranya menyatukan setiap perbedaan menjadi sama. Sementara mereka masih berdiri dengan ego masing-masing? Katakan padaku bagaimana melakukannya?

Aku juga mengumpulkan berkas dengan menitipkan sebuah amplop putih. Dengan atau bagaimana amplop itu bekerja aku tidak tahu. Tapi kata mereka ini manjur. Kata mereka dengan beberapa fakta sebagai pedoman. Aku berusaha mengucapkan kata terimakasih di bibirku dan dalam hatiku, apakah beliau mendengarnya akujuga tidak tahu. Aku hanya berharap ini adalah niatan terimakasih karena telah meloloskanku pada berkas pertama dan ini berkas keduaku.

Tapi tenang, aku masih mempunyai teman, teman-teman yang dapat kutipu dengan raut wajahku. bagaimana caranya? aku bisa tersenyum bahagia, seolah-olah sedang jatuh cinta. Tapi mereka bahkan tidak tahu kalau aku terluka, hanya mata yang dapat menandakan bahwa aku menangis semalaman dan beberapa malam. Mengapa aku menangis? ini karena duniaku yang berbeda, tanpa ada yang mengerti bagaimana aku, tanpa ada yang tahu kenapa aku, tanpa ada yang bertanya sama sekali padaku. Aku berusaha memendam sendiri, menelan pahitnya sakit fisik dan sakit batin yang entah darimana asalnya.

Aku hanya merasa, duniaku berbeda, tanpa teman, tanpa senyum, tanpa bahagia, tanpa manis. Tapi aku dapat memasang topeng kebahagiaanku di depan teman-temanku dan kampus merah.

Seperti langit, awan, hujan dan bumi. Mereka memang berbeda, tapi mereka saling melihat. Ketika langit bersedih karena bumi, awan menutupinya hingga bumi tak bisa melihat kesedihannya. Tetapi ketika awan tak mampu menampung sedih duka langit maka awan menumpahkannya melalui hujan. Bumipun tahu langit bersedih karenanya, bumipun tahu langit juga rindu dengannya maka bumi memantulkan pelangi yang sampai ke awan dan langit sebagai tanda rindunya.

Aku hanya ingin seperti cerita klise langit, awan, hujan dan bumi. Aku ingin teman-temanku tahu tanpa dengan duniaku yang penuh kebohongan.