Hampir setiap pagi kumulai hari dan hari dengan ekspektasiku. Dan hampir setiap malam pula ekspektasi itu hanya menjadi ekspektasi untuk pagi berikutnya. Hampir setiap waktuku tidak bisa melakukan semuanya dengan baik.
Bingung untuk memulai. Apa yang pertama akanku jamah. Akankah membuat sepenggal mesagge buat teman-temanku dan menyapa pagi mereka? Apa dengan medorong keluar tubuhku dan berhadapan dengan tuan matahari? Atau membuat ekspektasi hari lagi dengan pena yang berbeda??
Ya, semuanya tidak kulakukan kecuali hanya terbaring sembari mengingat sapanya semalam yang tiba-tiba.
Tiba-tiba ada sebuket bunga mawar berwarna merah disana dan gambaran hati yang bertebaran dimana-mana. Tentunya bukan di depan pintu kamarku, tapi di sebah jejaring sosial bernama LINE.
Ada rasa penyesalan disana, kenapa aku menerima recomendednya menggunakan aplikasi ini? kenapa aku harus meminta dia menjadi temanku? Kenapa kita masih saling menyapa? Kenapa kita masih saling mengirimkan foto?
Kenapa kamu lakukan ini?
Kemana kamu saat 14 bulan yang lalu?
Kenapa saat sisa-sisa bunga dandoloid yang dulu tumbuh subur kini terbang habis oleh angin kehampaan?
Kenapa tidak datang saat detik-detik hatiku sekarat menunggu?
Semua, semalaman membuatku bingung, bahkan untuk menjawab. Bahkan untuk sedikit degupan saja tak berfungsi lagi disana.
Memori?
Tidak lagi menjadi guna karena termakan oleh debu-debu yang dibiarkan menebal menjadi tanah.
Aku?
Kamu?
Hanya tinggal ekpektasi yang berbeda saat ini. Tidak lagi saling menyatu, bahkan saat dekat sekalipun. Kamu dan duniamu. Aku dan duniaku.
Aku dengan ekspektasi yang masih menunggu tanpa gerek. Ekspektasi yang sama tanpamu.
Sedikitpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar