Hari ini mendung, kemudian tiba-tiba kembali panas. Entah pertanda apa yang telah diperlihatkan oleh Sang Pemilik Alam ini, yang jelas aku tak ingin ini adalah sebuah firasat yang mungkin tidak menguntungkan untukku. Sebuah pertanda yang sering diperlihatkan para pemikir fatamorgana tentang fenomena alam. Sebuah pertanda yang diartikan para penyair untuk berpuisi.
Ada kisah klise penampak kaki kecil yang berlarian riang tanpa alas di tanah lembab membawa beberapa surat pengantar tentang cerita hidup mereka. Dimana semuanya menjadi lebih indah di batas mata kecil mereka walau tanah tersebut dapat melukai kaki kecil tanpa alas itu. cuaca tak bersahabat hari ini malah menjadikan mereka lebih riang dari biasanya. Bahkan, untuk diriku sendiripun yang mencoba mengikuti langkah mereka dapat membuat kepalaku pusing seperti dunia yang sedang menari dan mampu membuatku mengeluarkan cairan merah di ujung hidungku.
Mereka datang membawa sebuah permainan kuno, yang kupikir ini adalah sebuah loncatan mundur beberapa tahun silam tentang kepopuleran permainan itu. Kemudian mereka menarikku berlarian, ramai-ramai hingga membuatku terjatuh dari tempatku beristirahat. Anehnya, genggaman tangan mereka tidak membuatku meringis kesakitan atau mebuat cairan merah itu keluar lagi. Malah genggaman tangan mereka membawaku kedamaian seperti peri kecil yang melindungiku.
Aku terhanyut oleh lompatan waktu itu, aku sangat terhanyut dengan permainan kuno bersama para kaki kecil tanpa alas. Aku senang. Aku merasakan nostalgia dimana aku berumur 5 tahun. Aku menikmatinya. Kemudian aku menatap mata kaki kecil tanpa alas itu, aku menatap mata yang familiar. Aku menatapnya lagi dengan seksama dan aku terjatuh. Dia melepaskan genggaman tanganku, Dia si kaki kecil tanpa alas itu.
Dia menangis, Aku menangis yang bahkan aku tak tau sebabnya. Kemudian dia menjauh tanpa ada langkah kaki yang mendahului kita berdua. Dia melambaikan tangannya dan aku hanya menatapnya. Dia menghilang di balik cahaya putih itu dan aku sendiri. Aku sendiri bersama sisa permainan kuno ini. Bingung. Dan kembali menangis. Sampai aku kembali kedimensi yang benar dimana aku menatap langit-langis dengan sedikit sisa lapukan air hujan di sana. Aku sadar, barusan aku berada di dimensi tanpa nama. Dimensi yang membawa perasaan tidak karuan ini.
Sekali lagi, ini cerita tentang kaki kecil tanpa alas itu. Kaki kecil yang matanya mirip dengan mata di depan cerminku sekarang, Dia adalah aku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar